| Jalan Masih Panjang |
|
|
|
| Written by Ari Tulank | |
| Selasa, 22 Juli 2008 | |
|
Tak ubahnya petinju yang dipukul Knock Out (KO) hingga tak sadarkan diri, itulah gambaran kondisi Maung Bandung saat ini setelah ditekuk Persija Jakarta 2-3 (1-1) dalam lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) 2008, Minggu (20/07) di Stadion Siliwangi, kerugian berlipat harus diterima Persib, selain gagal mengamankan tiga angka, tindakan brutal Bobotoh di dalam stadion yang tak menerima kekalahan tinggal menunggu kabar, sanksi apa yang bakal dijatuhkan Komisi Disiplin (Komdis) dan yang tak kalah menyakitkan kekalahan itu terjadi dihadapan pendukung sendiri, kekalahan dikandang atas Persija adalah haram hukumnya bagi Bobotoh, dan mungkin karena alasan itulah Bobotoh bertindak anarkis, meski tidak sepantasnya dilakukan. Ekpestasi tinggi pasca membantai Persela Lamongan 5-2 serta catatan kemenangan musim lalu ditambah materi pemain yang sedikit lebih unggul, membuat seluruh elemen Maung Bandung begitu optimis mampu menundukan seteru utamanya di Liga Indonesia, Persija Jakarta. Persiapan matang pun sudah dilakukan semaksimal mungkin, khusus untuk partai menghadapai Persija, tak kurang dari 800 Aparat Keamanan gabungan dari Polisi dan TNI yang terbagi dalam tiga ring pengamanan telah disiagakan, pemeriksaan ketat di setiap pintu masuk untuk mencegah masuknya botol air mineral dan petasan yang kerap mengganggu jalannya pertandingan sudah dilakukan, dan tentu saja yang menggemberikan adalah pernyataan sikap dari para Bobotoh untuk tidak melakukan tindakan anarkis terhadap pemain dan pengurus Persija, sebuah langkah maju mengingat semenjak sepuluh tahun terakhir hal itu seolah menjadi tabu. Namun sekali lagi sepak bola bukan hitungan metematis, berbagai keuntungan yang berpihak tidak menjamin kemenangan akan mudah dalam genggaman, permainan dilapangan tetap yang menentukan hasil akhir dari sebuah permainan, tidak hanya dituntut semangat juang, namun kecerdikan dan kejelian dalam mengolah permainan serta keberhasilan mengatasi tekanan adalah modal lain yang tak kalah penting, dan tentu saja keberuntungan. Dan harus diakui Persija lebih menguasai unsur-unsur tersebut. Kekalahan itu memang begitu menyakitkan namun apakah dampaknya sebegitu dahsyatnya?, atau mungkin kita yang terlalu membesar-besarkan, kekalahan atas klub manapun sama saja, tak berbeda dengan meraih sebuah kemenangan bisa kapan saja bisa di mana saja, kandang, tandang, bisa besok, lusa, atau kapanpun. Liga ini masih panjang, masih menyisakan 32 pertandingan kedepan untuk dilalui, tidak ada guna saling menyalahkan mencari kambing hitam, segeralah berbenah, intropeksi, jangan biarkan lawan-lawan memanfaatkan keadaan ini, buktikan bahwa ini hanya permainan, dan kita masih tegar berdiri. Beruntunglah karena tamparan itu datang di awal, jangan sampai terjadi seperti musim kemarin, terlena diakhir kompetisi, tentu akan sangat lebih menyakitkan. |
| < Prev | Next > |
|---|













